Pekanbaru Heritage

  Yeeeiiiy, I’m baaaaaack! Setelah lama blog ini penuh dengan sarang laba-laba, akhirnya ik (saya) balik juga. Bukan sok sibuk, tapi ga pernah liburan lagi 😦 sedih yaa huhu.

Kali ini, ik bakal bahas daerah saya dibesarkan “Pekanbaru” yaps pekanbaru, riau kota bertuah yang sekarang berganti menjadi kota madani. Menurut sumber, mayoritas penduduk yang ada di Pekanbaru beragama Islam, sukunya adalah suku melayu. Pekanbaru – Riau ini juga terkenal dengan sebutan “Kota Minyak” iyaaa kota minyak, Karna Riau adalah salah satu kota penghasil minyak mentah.

Sedikit sejarah mengenai Pekanbaru

Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang Minangkabau.[6]Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat permukiman yang ramai. Pada tanggal 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah “Dewan Menteri” dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.[7][8]

Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940. Kemudian menjadi ibukota Onderafdeling Kampar Kirisampai tahun 1942.[9] Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.

Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kotapraja.[8] Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.[10] Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk.[11] Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25[8] sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjungpinang[12] (kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau).


Untuk Pariwisata sendiri lebih banyak wisata Sejarah yaa, bukan pantai, gunung, dll. Yang terkenal juga adalah “Pasar Bawah”. Pasar bawah disebut sebagai tempat berburu oleh-oleh, yang sebenernya kalau untuk snack di pasar bawah lebih banyak menjualkan snack dari Malaysia clikc here.

Jadi, pada tanggal 6-7 July 2017 lalu. Saya kebagian ngebantuin temen saya untuk menemani tamu dari pulau jawa yang sedang menghadiri OSN (Olimpiade Sains Nasional).

Rumah Singgah Tuan Kadi

Rumah Tenun

Makan bersama di “Tanah Longsor”
Anjung Seni Idrus Tintin

Sampai bertemu di lain kesempatan Bapak – Ibu

Advertisements
Pekanbaru Heritage